Pada hari Rabu (22/07), PC Al-Irsyad Al-Islamiyyah Surabaya bersilaturahim dengan salah seorang tokohnya, yaitu Ady Khaled Amar. Pertemuan itu berlangsung di Sekretariat PC Al-Irsyad Surabaya. Disambut oleh segenap pengurus PC, Ady Amar berdiskusi banyak hal tentang posisi dan proyeksi Al-Irsyad masa kini dan masa depan.

Al-Irsyad, menurutnya, memiliki potensi yang sangat besar. Al-Irsyad secara umum memiliki Syaikh Ahmad Surkati sebagai percontohan, dan perjalanan sejarah organisasi yang dinamis. Al-Irsyad banyak menelurkan tokoh dan pemikiran yang progresif dari rahimnya. Gagasan-gagasan pembaruan yang dikeluarkan oleh Surkati dan Al-Irsyad masif tersebar dalam media-media cetak.

Dalam satu dekade Al-Irsyad, antara tahun 1920 hingga 1930-an, Al-Irsyad banyak menerbitkan puluhan media cetak sebagai jalan penyebaran ide. Penerbitan media cetak itu terwujud di berbagai kota di Jawa. “Dari mulai Jakarta sendiri, Pekalongan, Solo, hingga Surabaya.” Ungkap Ady Amar.

Akan tetapi zaman mengubah dirinya. Penyampaian gagasan dengan media cetak ternyata sudah tidak efektif, apalagi efisien. Perannya diambil oleh media digital. Ady Amar mencontohkan salah satu tulisannya di Republika Online dibaca oleh lebih dari satu juta orang, suatu hal yang sulit dicapai oleh media cetak. Ia menyarankan agar Al-Irsyad menyasar platform digital sebagai media andalan.

Ady melihat potensi besar di kalangan Irsyadi. Kebiasaan melakukan debat informal dalam berbagai topik semestinya dapat dituangkan dalam bentuk tulisan, sehingga gagasan yang muncul tidak hanya dikonsumsi untuk internal saja, namun lebih jauh dapat andil dalam perputaran opini umat Islam secara luas.

Pentingnya Sejarah dan Mabda’ Bagi Al-Irsyad

Al-Irsyad telah berusia lebih dari satu abad. Artinya bahwa Jum’iyyah memiliki sejarah yang panjang, pantas dikenang, dan dijadikan suatu pembelajaran. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Hasyr: 18)

Ayat tersebut menunjukkan pentingnya suatu sejarah, terutama sebagai landasan dalam melakukan sesuatu untuk hari esok. Perintah itu pun berlaku bagi Al-Irsyad, yang juga ditekankan oleh Ady Amar. Segala yang pernah dilakukan dan dibangun oleh para pendahulu di Al-Irsyad perlu diperhatikan dan diadopsi apabila masih memiliki nilai guna.

Semua keteraturan, pedoman organisasi, pedoman perkaderan, pengelolaan aset dan amal usaha, hingga konflik yang pernah terjadi, mesti dicermati dengan detail. Hal-hal tersebut akan memberi pemahaman kepada kita tentang ‘siapa sebenarnya kita dan mengapa kita berada dalam kondisi seperti ini’. Dengan membaca, kita tidak akan memiliki pemahaman yang keliru, apalagi salah paham terhadap persoalan yang terjadi.

The last but not least, Al-Irsyad memiliki Mabda’, yaitu delapan rumusan yang tercantum dalam Mabadi Al-Irsyad. Mabadi tersebut adalah pedoman bagi Jum’iyyah dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam demi tercapainya tujuan. Delapan point tersebut adalah: 1) Sumber hukum, 2) Aqidah/Tauhid, 3) Ibadah, 4) Akhlak, 5) Al-Musawa / Kesetaraan, 6) Ilmu Pengetahuan, 7) Modernitas, dan 8) Ukhuwwah Islamiyyah.

Ady Amar memperhatikan bahwa salah satu faktor kemunduran Al-Irsyad saat ini adalah kurangnya pembinaan Mabda’ yang intensif kepada para kader, terutama kepada murid-murid sekolah Al-Irsyad. Dengan pembinaan Mabda’ yang intensif, maka segala gerakan Jum’iyyah akan selalu on the right track.

Konsisten dalam mencapai tujuan dan memegang teguh Mabda’ adalah alasan dari besarnya nama Al-Irsyad dalam sejarah dan perkembangan Ormas Islam di Indonesia. Ady Amar menerangkan bahwa Adian Husaini, dalam setiap tulisannya, menyebut Al-Irsyad sebagai ormas Islam terbesar ketiga di Indonesia setelah NU dan Muhammadiyah.

Menjaga keberlangsungan dan pemberlakuan Mabadi Al-Irsyad berarti melestarikan ajaran-ajaran Syaikh Ahmad Surkati dan tujuan-tujuan yang telah disusun dan dibangun oleh founding father Jum’iyyah Al-Irsyad Al-Islamiyyah. (lal)