“Dialah the Guardian Dunia Pemikiran Islam Indonesia, yang selalu merasa cemas bila melihat gejala penyimpangan atau penyelewengan dalam kegiatan intelektual.”–Nurcholish Madjid

Berikut kisah tentang Saridi yang lalu menjelma menjadi Rasjidi, belakangan dikenal sebagai HM. Rasjidi. Dialah yang dikenal sebagai penentang ide-ide sekularisme.

Saridi terlahir sebagai anak kedua dari lima bersaudara keluarga Atmosudigdo. Lahir di Kotagede, Yogyakarta, 20 Mei 1915.

Ayahnya, Atmosudigdo, berasal dari latar belakang pedagang. Meskipun seorang muslim, tapi dia kurang menjalankan syariat agama secara sempurna.

Saridi, anak keduanya, itu memulai pendidikan Ongko Loro, setingkat Sekolah Dasar. Sekolah yang menggunakan pengantar Bahasa Jawa.

Saat Persyarikatan Muhammadiyah di Kotagede membuka Sekolah Rendah, Saridi pindah ke sekolah itu.

Tamat dari Sekolah Rendah itu, Saridi melanjutkan ke Sekolah Guru (Kweekschool). Dia cuma sampai kelas tiga, berhenti sekolah karena terserang tifus.

Tapi semangat belajar Saridi kecil ini tidak padam.

Saat menganggur itu dia membaca koran, dari sejumlah bacaan–koran dan majalah–dimana ayahnya berlangganan, memuat berita kepindahan Syekh Ahmad Surkati, pendiri Jum’iyyah Al-Irsyad Al-Islamiyyah, dari Jakarta ke Lawang, Jawa Timur.

Surkati dikenal sebagai Ulama berpaham modern. Atas info yang dibaca di koran, Saridi tertarik belajar di sana.

Bahasa pengantar pada Sekolah Perguruan Al-Irsyad menggunakan Bahasa Arab. Awalnya Saridi mengalami kesulitan. Namun tidak lama dia bisa mengikuti pelajaran dengan amat baik.

Dia tergolong murid yang pandai, bahkan cerdas, dan karenanya Surkati memberikan tambahan pelajaran khusus padanya. Dalam waktu singkat, Saridi sudah menguasai kitab gramatika Bahasa Arab standar yang terdiri dari 1.000 bait syair, Alfiyah Ibnu Malik. Saridi juga hafal dengan baik buku logika Aristoteles, Matan al-Sulam.

Betapa kagum Surkati pada Saridi atas kecerdasannya itu. Namun demikian, Surkati kesulitan menyebut nama Saridi dengan baik. Selalu Surkati kepeleset lidah, memanggilnya dengan Rasjidi.

Saridi tidak pernah mengoreksi Surkati, atas penyebutan namanya yang salah itu. Diam-diam Saridi justru senang dengan penyebutan nama barunya itu, Rasjidi.

Pendidikan dan Karirnya

Setamat dari pendidikan pada Jum’iyyah Al-Irsyad, Lawang, Saridi melanjutkan pendidikannya di Kairo, Mesir, tahun 1931. Dia masuk Darul Ulum, atas rekomendasi Syekh Ahmad Surkati, dan lulus tahun 1934.

Lalu beliau melanjutkan pendidikan pada Fakultas Sastra Universitas Cairo, jurusan Filsafat. Lulus dengan prestasi cum laude, di tahun 1938.

Setelah itu, beliau menyempatkan diri melaksanakan Ibadah Haji, dan di sanalah beliau mengukuhkan namanya menjadi Mohammad Rasjidi.

Itulah kemudian orang mengenal namanya dengan Mohammad Rasjidi, atau biasa disingkat H.M. Rasjidi, atau disebut juga dengan nama pendeknya, Rasjidi. Dalam perjalanan sejarahnya, dialah Menteri Agama RI Pertama, pada Kabinet Sjahrir II, dilantik pada 3 Januari 1946.

Karir Rasjidi tidak hanya di Kementerian Agama saja, tetapi dia juga sebagai diplomat ulung pada Kementerian Luar Negeri. Dia pernah menjabat sebagai Duta Besar pada Kerajaan Saudi Arabia merangkap Mesir.

Tidak itu saja, Rasjidi pun menyelesaikan pendidikan Doktoralnya di tahun 1956, di Universite Sorbonne, Prancis. Lulus dengan predikat cum laude. Disertasinya berjudul Consideration Critique du Centini ou Evolution de l’Islam en Indonesie; sebuah kritik atas “Serat Centini”, yang menyatukan ibadah dengan mistik.

Rasjidi juga dikenal sebagai tokoh pendidikan. Dia adalah Guru Besar pada Fakultas Hukum, bidang Hukum Islam dan Lembaga-lembaga Islam, Universitas Indonesia, yang dikukuhkan pada 20 April 1968. Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar itu, Rasjidi tidak lupa mengucap terimakasihnya pada beberapa orang yang telah membimbingnya selama ini, di antaranya:

Ahmad Ilhar, disebut namanya, yang ketika Rasjidi berusia 6-7 tahun, seorang yang setiap pagi selalu datang ke rumahnya di Kotagede, untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’annya.

Syekh Ahmad Surkati, pendiri dan ketua Jum’iyyah Al-Irsyad Al-Islamiyyah, disebutnya sebagai orang yang telah mengajarkan Islam dengan sebenarnya dan bahasa Arab dengan amat baik, saat usianya 16-17 tahun. Dan, Surkati disebutnya juga sebagai seorang yang memberi pendidikan, bahwa “Tidak semua yang ditulis di buku itu benar.”

Mungkin itu sebuah pelajaran yang mengajarkan agar sang murid tidak taklid pada satu pendapat yang termuat dari sebuah buku.

Spirit Intelektualnya

Rasjidi aktif menulis buku, di antaranya Unity and Diversity in Islam, dalam Prof. Kenneth Morgan, Islam the Straight, Ronald Press New York, 1956; Filsafat Agama, 1956; Islam dan Kebatinan, 1967; Koreksi terhadap Drs. Nurcholish Madjid tentang Sekularisme, 1972; Empat Kuliah Agama Islam di Perguruan Tinggi, 1974; Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Bulan Bintang, 1977; Kebebasan Beragama, Media Dakwah, 1979; Strategi Kebudayaan dan Pembaharuan Pendidikan Nasional, 1980.

Dan karya terjemahan lainnya, di antaranya Bibel, Qur’an dan Sains Modern, karya Dr. Maurice Bucaille, Bulan Bintang, 1978; Humanisme dalam Islam, karya Dr. Marcel Boisard, Bulan Bintang, 1980; Janji-janji Islam, karya Roger Garaudy, Bulan Bintang, 1982; dan Persoalan Filsafat, karya Titus Buckhard, dkk, 1984.

Banyak pula tulisan lepasnya/opini, yang bersifat polemik, dimuat di banyak media, diantaranya kritik tajamnya atas pikiran Cak Nur, tentang “Islam Yes, Partai Islam No.”

Meski demikian, Nurcholish Madjid menjuluki Rasjidi sebagai “The Guardian (Penjaga) Dunia Pemikiran Islam Indonesia, yang selalu merasa cemas bila melihat gejala penyimpangan atau penyelewengan dalam kegiatan intelektual.”

Dia yang bermula bernama Saridi, anak Kotagede, Yogyakarta, itu menjelma menjadi Rasjidi, yang bertabur prestasi yang sulit disamai.

Pribadi besar itu, Rasjidi, di setiap kesempatan selalu menyebut diri sebagai murid dari Sekolah Perguruan Al-Irsyad dan Muhammadiyah. Rasjidi ada di antara Al-Irsyad dan Muhammadiyah, menjadi semacam “milik bersama”.

Rasjidi juga salah satu yang terlibat dalam pendirian Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), bersama M. Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Prawoto Mangkoesasmito, Anwar Harjono.

Mohammad Rasjidi wafat di Jakarta, 20 Januari 2001, meninggalkan banyak karya besar. Sungguh pribadi yang sulit dicari bandingnya.*

Ady Amar, penikmat dan pemerhati buku. Sejak belia aktif menulis di berbagai media. Tinggal di Surabaya.